Postingan

pulang, sayang

Gambar
kalau ada waktu aku pulang kok, tungguin ya. kamu nggak pernah bilang pulang ke mana  kamu nggak pernah bilang rumah yang mana  hari itu aku bersandar di pundakmu  pundak yang aku kenal paling kuat  hari itu nggak se-tegap biasanya  aku sudah bilang pulang, sayang. pulanglah kalau berat pulanglah kalau semuanya terasa berat aku juga nggak pernah bilang pulang ke mana aku juga nggak pernah bilang rumah yang mana pulang, sayang nggak harus di sini pulang ke tempat  yang nggak harus didatangi  hanya saat kamu sempat

Hujan di Februari

februari yang lalu, ada anak laki-laki berlarian di bawah hujan memakai hoodie ungu tua "ngapain?" "cari pemantik," kedinginan? zaman modern ini kedingingan saat hujan lalu cari pemantik? atau mau merokok? ternyata ia nyalakan kembang api 

Halo!

 Halo, ini bukan puisi atau cerita pendek. Sudah lama banget sejak terakhir nulis di sini. Beberapa tulisan ada yang akhirnya dimuat di akun sosial media dan buku supaya lebih banyak lagi yang bisa membaca. Beberapa tetap di sini aja, hehe. Hari ini tiba-tiba memutuskan untuk membuka blog ini lagi dan nulis sesuatu. Alasannya? Tiba-tiba jatuh cinta lagi setelah baca sebuah karya tulisan. Aku jadi ingat ternyata masih banyak yang berputar-putar di kepala tanpa berani buat diutarakan atau ditanyakan kalau bentuknya berupa pertanyaan. Either gak berani bilang ke orangnya atau orangnya udah gabisa di- reach out lagi. Jadi, izinkan aku buat nulis lebih banyak lagi dan lebih bervariasi lagi. Mungkin akan ada selembar penuh dengan pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan yang nggak pernah bisa tersampaikan di platform lain. Izinkan itu semua jadi tulisan yang nanti entah terbang ke mana akhirnya. Cheers !

nothing

as we cant say anything and we don't know how to stay or just strolling like we used to we choose nothing to do with us nothing until you away nothing until miles away nothing until you get used to it nothing until I choose to leave

Minuman Es

hari itu esnya meleleh dan ada hati yang membeku; aku atau kamu? kamu sudah habiskan minumanmu saat krim di atasnya bahkan belum kamu aduk dan belum ada bulir-bulir air di luar gelas sedangan aku masih menyisakan minuman untuk kubawa pulang, bahkan ketika seluruh esnya sudah mencair hambar.

Asaku Hilang

Gambar
  “Nggak usah marah gitu sih,” Kata Asa tanpa menoleh ke arahku. Ia merogoh-rogoh isi tasnya, nggak ada yang tau apa yang lagi dia cari—kecuali dia sendiri. Aku sebenarnya nggak marah, sama sekali. Asa yang sibuk sama urusannya sendiri. Asa yang ribet sama urusannya sendiri. “Loh? Apa sih? Orang aku nggak kenapa-napa,” Iya, tadi aku beneran nggak marah. Tapi sekarang kayaknya sedikit kesal. “Iya. Kelihatan kali.” Kata Asa masih belum menatap siapa yang dia pilih jadi lawan bicara—walaupun sebenarnya sudah jelas itu aku. “Apa sih, Sa? Nggak jelas,” “Nggak usah kusut banget gitu deh. Nggak enak tau diliat orang,” Asa sudah menemukan yang ia cari dari dalam tasnya, ternyata handphone kerjaan dia. “Emang kenapa kalo diliat orang? Malu? Ngapain kamu yang malu, orang aku yang marah, bukan kamu,” Aku nggak mau ngomong yang lebih jelek-jelek lagi dari ini, jadi aku putuskan buat beranjak dan jalan jauh-jauh dari Asa supaya perdebatan yang nggak jelas ini nggak perlu dilanjutkan....

Gincu Nomor 16

"Hai," katanya di ujung sana. Jaketnya masih dipakai, rambutnya masih rapi, dan senyumnya masih sama. Mau bilang apa lagi, sih? Harusnya aku yang menelpon, karena masih banyak yang belum sempat aku ucapkan saat tatap saling bertemu tadi. Aku juga belum menghapus riasan, sih. Kamu lihat, nggak? Ada garis-garis halus di alas bedakku karena terlalu banyak tersenym untuk kamu. Ada pulas mata yang kalah dengan binar tatapmu. Oh, kalau ini bukan perona pipi. Sudah, jangan senyum-senyum terus!

at the place where we met

Gambar
have you ever settled with someone for a very short period of time but you can write 293737 poems about them because you have a very long time to miss them every time the winds blow because you have a very long time to untangle the threads of your memories about them maybe yu didn't have that much time to remember their eyes but you definitely remember how it felt when eyes met when smile followed when heart beat faster when you named them in your mind as the prettiest daffodils as the warmest winter coat as the brightest star as the honey of my flower