Postingan

Hujan di Februari

februari yang lalu, ada anak laki-laki berlarian di bawah hujan memakai hoodie ungu tua "ngapain?" "cari pemantik," kedinginan? zaman modern ini kedingingan saat hujan lalu cari pemantik? atau mau merokok? ternyata ia nyalakan kembang api 

Halo!

 Halo, ini bukan puisi atau cerita pendek. Sudah lama banget sejak terakhir nulis di sini. Beberapa tulisan ada yang akhirnya dimuat di akun sosial media dan buku supaya lebih banyak lagi yang bisa membaca. Beberapa tetap di sini aja, hehe. Hari ini tiba-tiba memutuskan untuk membuka blog ini lagi dan nulis sesuatu. Alasannya? Tiba-tiba jatuh cinta lagi setelah baca sebuah karya tulisan. Aku jadi ingat ternyata masih banyak yang berputar-putar di kepala tanpa berani buat diutarakan atau ditanyakan kalau bentuknya berupa pertanyaan. Either gak berani bilang ke orangnya atau orangnya udah gabisa di- reach out lagi. Jadi, izinkan aku buat nulis lebih banyak lagi dan lebih bervariasi lagi. Mungkin akan ada selembar penuh dengan pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan yang nggak pernah bisa tersampaikan di platform lain. Izinkan itu semua jadi tulisan yang nanti entah terbang ke mana akhirnya. Cheers !

nothing

as we cant say anything and we don't know how to stay or just strolling like we used to we choose nothing to do with us nothing until you away nothing until miles away nothing until you get used to it nothing until I choose to leave

Minuman Es

hari itu esnya meleleh dan ada hati yang membeku; aku atau kamu? kamu sudah habiskan minumanmu saat krim di atasnya bahkan belum kamu aduk dan belum ada bulir-bulir air di luar gelas sedangan aku masih menyisakan minuman untuk kubawa pulang, bahkan ketika seluruh esnya sudah mencair hambar.

Asaku Hilang

Gambar
  “Nggak usah marah gitu sih,” Kata Asa tanpa menoleh ke arahku. Ia merogoh-rogoh isi tasnya, nggak ada yang tau apa yang lagi dia cari—kecuali dia sendiri. Aku sebenarnya nggak marah, sama sekali. Asa yang sibuk sama urusannya sendiri. Asa yang ribet sama urusannya sendiri. “Loh? Apa sih? Orang aku nggak kenapa-napa,” Iya, tadi aku beneran nggak marah. Tapi sekarang kayaknya sedikit kesal. “Iya. Kelihatan kali.” Kata Asa masih belum menatap siapa yang dia pilih jadi lawan bicara—walaupun sebenarnya sudah jelas itu aku. “Apa sih, Sa? Nggak jelas,” “Nggak usah kusut banget gitu deh. Nggak enak tau diliat orang,” Asa sudah menemukan yang ia cari dari dalam tasnya, ternyata handphone kerjaan dia. “Emang kenapa kalo diliat orang? Malu? Ngapain kamu yang malu, orang aku yang marah, bukan kamu,” Aku nggak mau ngomong yang lebih jelek-jelek lagi dari ini, jadi aku putuskan buat beranjak dan jalan jauh-jauh dari Asa supaya perdebatan yang nggak jelas ini nggak perlu dilanjutkan....

Gincu Nomor 16

"Hai," katanya di ujung sana. Jaketnya masih dipakai, rambutnya masih rapi, dan senyumnya masih sama. Mau bilang apa lagi, sih? Harusnya aku yang menelpon, karena masih banyak yang belum sempat aku ucapkan saat tatap saling bertemu tadi. Aku juga belum menghapus riasan, sih. Kamu lihat, nggak? Ada garis-garis halus di alas bedakku karena terlalu banyak tersenym untuk kamu. Ada pulas mata yang kalah dengan binar tatapmu. Oh, kalau ini bukan perona pipi. Sudah, jangan senyum-senyum terus!

at the place where we met

Gambar
have you ever settled with someone for a very short period of time but you can write 293737 poems about them because you have a very long time to miss them every time the winds blow because you have a very long time to untangle the threads of your memories about them maybe yu didn't have that much time to remember their eyes but you definitely remember how it felt when eyes met when smile followed when heart beat faster when you named them in your mind as the prettiest daffodils as the warmest winter coat as the brightest star as the honey of my flower

for #Percakapan14Februari

Gambar
“I don’t have feelings anymore for that boy from your class,” “Well, sad to hear that…” “Hm? I thought you don’t like it when I talked about him,” “That’s partly true, but if you don’t crush on him anymore, you won’t call me at midnight only to talk about his Instagram story,” “I will still call you. I will tell you about my cats, my cactus, my brother who doesn’t like choco mint ice cream, or the last movie I watched,” “Then I will listen to you all night long,” ”Just like before?” ”I could listen to you for two days straight,” ”What does that mean?” ”It means something, like, I like your story, I like your voice, I like your laugh, I like your giggles, I like everything about you,” ”What does that mean, again?” ”Do you really want me to say that?” “Do you really believe that it was all about those stupid Instagram story?”
Gambar
You always take me somewhere beautiful Somewhere like beaches in summer Parks in autumn and spring Nice coffee shop in winter You always take me somewhere you put your childhood memories Somewhere like amusement park Ice cream shop across the street or that little park near your home "Where should we go next time?" "I don't know, but that town where you finished your high school is okay," "It's just a small town, you won't find anything good," What do you mean? I found your eyes wherever we go together I found you smiling looking at my camera I found you between my fingers when we cross the road I found you, I found you.

sore pertama

Gambar
waktu itu matahari belum sepenuhnya pamit  semburat jingga masih malu-malu datang angin masih bertiup sedikit hangat lampu-lampu jalan pun belum dinyalakan burung-burung masih banyak berterbangan waktu itu matahari perlahan menjauh dariku yang mendekat hanya sebuah siluet dan wangi parfum kayu-kayuan burung-burung sudah tidak lagi di sini sekarang yang ada hanya kupu-kupu menggelitik perut dan aku yang malu-malu melangkahkan kaki lebih dekat

pulang, sayang

Gambar
kalau ada waktu aku pulang kok, tungguin ya. kamu nggak pernah bilang pulang ke mana  kamu nggak pernah bilang rumah yang mana  hari itu aku bersandar di pundakmu  pundak yang aku kenal paling kuat  hari itu nggak se-tegap biasanya  aku sudah bilang pulang, sayang. pulanglah kalau berat pulanglah kalau semuanya terasa berat aku juga nggak pernah bilang pulang ke mana aku juga nggak pernah bilang rumah yang mana pulang, sayang nggak harus di sini pulang ke tempat  yang nggak harus didatangi  hanya saat kamu sempat

adios, amigos

Gambar
"Aku berangkat dulu, ya," ia bawa koper merah super besarnya itu,  koper yang ia bawa saat pertama kali  datang ke sini, ke kota ini. biasanya tidak pernah ia bawa si merah ini  ke mana-mana, kecuali akan pergi lama. "Lama, ya?" "Perjalanannya? He-eh, sekitar 7-8 jam," bukan itu, bodoh "Lama, ya?" "Iya, lumayan, kayak muter 120 lagu nonstop," lalu, aku, harus putar berapa lagu  selama kamu pergi? seribu? sepuluh ribu?  "Di sana berapa lama?" "Belum tau, liat dulu," belum tau, tapi kamu sudah bawa  koper merah itu "Yang penting balik ke sini," "Yaaa nanti balik pas kamu udah hampir  lupa sama aku. Biar nggak lupa!"  jangan. jangan seperti itu. kalau seperti itu caranya,  kamu nggak akan pernah kembali.

he, was

his love was a sweet short trip to paris  the last petal of daffodils in autumn  the epilogue of a good tv series  and a lullaby for a tired soul  his love was a gelato shop at 9 pm  the last scoop for two  cones are out of stock  a paddle-like utensil for two  they said nothing last forever  paris for another city  autumn for spring  epilogue for other title  lullaby for a good morning 9 pm for 9 am but  johnny  would you like a short trip to dusseldorf,  perhaps?

merah

orang-orang bilang,  perasaan merah merekah ini  yang bisa membuat segalanya jadi sempurna  tapi terakhir kali kita saling menyapa  kamu lupa di mana kamu taruh maskermu sendiri kamu lupa mana wadah kue  mana wadah makanan bella kamu lupa membuka tutup teh botol kaca  dan langsung membawanya ke meja  tapi aku juga lupa  lalu kita tertawa  lalu, ternyata ini yang orang-orang sering bilang

let me love you

at some point in the beggining of the night I would cry because I don't know did I miss being loved or I miss loving someone at some point in the middle of the night your existence made me lost more and more did I want to be loved by you or loving you at some point in the end of the night I would thank you for letting me ask how was your day for letting me bring you some cake for letting me hug you when you feel low for letting me love you

12:10 - 12:30

12:10 Keretanya terlambat lagi sama seperti beberapa bulan lalu Menunggu itu tidak pernah menjadi hal yang menyenangkan walau sebenarnya seseorang yang akan keluar dari gerbong nanti tidak terlalu ditunggu kehadirannya 12:15 "Nggak bisa," "Udah nggak bisa lagi" "Nggak bisa dilanjut lagi" "Hai, maaf keretanya telat," "..." "Capek, ya? Udah nunggu lama banget, ya? Kamu yang capek. Duduk di kereta 10 jam cuma untuk menemuiku. Cuma untuk aku bisa bilang apa yang aku pikirkan belakangan ini. "Nggak. Nggak papa," 12:30 "Siang-siang gini kenapa malah nggak ada taksi ya," "Dulu gimana? Waktu nganterin aku kesini, pulangnya ada taksi?" Diantar, lalu kita makan sebentar "Ada. Ada taksi."

reality & dream after met you

"it's 1 AM already," "I know," "you have a class at seven," "I know," "so go sleep, babe," "then what? I will wake up and you won't be here anymore?" "I only go for a while," "3 month is a while?" "you have to go sleep right now, have a nice dream," "reality feels better than my dream ever since I know you and dream is just a bad dream because I imagined how would it be if youre gone"

do we really live in living room?

sometimes I feel like deciding to sit in the living room is the worst decision I've ever made. It is called living room but I don't think anything 'live' there. It is only for pointing out what's wrong with me.

oktober

biasa yang paling biasa cuma ikuti alur cuma ikuti apa yang ada mana itu kamu yang dulu mana itu kita yang dulu mana itu dunia yang dulu yang berkuasa pun bahkan belum bisa mengatasi aku cuma orang biasa bolehkan salah juga bolehkah gagal juga bolehkah sedih juga piringku masih terisi setiap hari tapi ada kalanya tak ingin kusentuh atapku masih utuh setiap hari tapi ada kalanya aku ingin langit biru sekitarku masih terang setiap hari tapi dadaku tak mau tahu tentang itu biar tidak ada yang lihat biar tidak ada yang tahu biasa yang paling biasa aku adenium di tengah gurun

haircut

"do you feel 'new'?"  "no, absolutely not" "so why did you do that?"  "what? cut my hair?"  "yes, by yourself"  "I just feel better, I guess"  he didn't understand, he will never understand "your fingers between my hair, I need to get rid them."